Garut, 27 Juli 2026 – Semangat persatuan dalam keberagaman kembali digaungkan di lingkungan MIS Ar-Raudhotun Nur melalui pelaksanaan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih yang berlangsung dengan penuh khidmat. Kegiatan rutin setiap hari Senin tersebut tidak hanya menjadi sarana menumbuhkan nasionalisme dan kedisiplinan peserta didik, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter. Pada kesempatan kali ini, Susi Nuraisyah, S.Pd.I., Gr., yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan amanat mengenai pentingnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan sebagai upaya menanamkan sikap saling menghormati, menghargai, serta membangun lingkungan madrasah yang aman, nyaman, dan bebas dari praktik perundungan (bullying).
Dalam amanatnya, Susi menjelaskan bahwa kebhinekaan bukan sekadar semboyan yang tertulis dalam lambang negara, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam perilaku setiap peserta didik. Menurutnya, Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan latar belakang masyarakat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk saling merendahkan, melainkan anugerah yang harus disyukuri dan dijaga bersama. Oleh karena itu, sejak usia madrasah peserta didik perlu memahami makna kebhinekaan agar mampu tumbuh menjadi generasi yang memiliki sikap toleran, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dengan siapa pun tanpa memandang latar belakangnya. "Anak-anak harus benar-benar memahami makna kebhinekaan, bukan hanya menghafal semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinekaan mengajarkan kita untuk saling menghormati, saling menghargai, dan hidup rukun di tengah berbagai perbedaan. Di madrasah ini kalian berasal dari keluarga, karakter, dan kemampuan yang beragam, tetapi semuanya adalah saudara yang harus saling mendukung. Jangan pernah mengejek teman, merendahkan kekurangan orang lain, atau melakukan bullying dalam bentuk apa pun. Jadilah pribadi yang mampu menghargai setiap orang karena itulah cerminan pelajar Indonesia yang berkarakter," pesan Susi Nuraisyah, di hadapan seluruh peserta upacara.
Di sisi lain, Susi menegaskan
bahwa nilai-nilai kebhinekaan sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan
umatnya untuk menjunjung tinggi sikap saling menghormati, saling menyayangi,
dan menjaga persaudaraan. Ia mengingatkan bahwa ukhuwah Islamiah tidak hanya
diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari dalam
berinteraksi dengan sesama. Menghormati teman, membantu mereka yang
membutuhkan, menjaga ucapan, serta menghindari tindakan yang dapat menyakiti
hati orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus dimiliki setiap
muslim. Menurutnya, praktik bullying bertentangan dengan nilai-nilai Islam
karena dapat melukai perasaan, menghilangkan rasa percaya diri, bahkan
mengganggu perkembangan karakter peserta didik. Oleh sebab itu, membangun
budaya saling menghargai merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga
madrasah. "Dalam Islam, saling menghormati dan menghargai merupakan
bagian penting dalam menjaga ukhuwah Islamiah. Rasulullah SAW telah mengajarkan
kepada kita untuk berakhlak mulia, menjaga lisan, serta memperlakukan orang
lain dengan penuh kasih sayang. Karena itu, jangan pernah merasa lebih baik
daripada teman, jangan membeda-bedakan seseorang, dan jangan melakukan tindakan
yang menyakiti orang lain. Madrasah harus menjadi tempat yang menghadirkan rasa
aman, persaudaraan, dan kebahagiaan bagi setiap peserta didik. Jika kita mampu
menjaga kebhinekaan dan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari, insyaallah kita
akan tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, cinta tanah air,
dan mampu menjaga persatuan bangsa," tutup Susi.
Melalui amanat upacara tersebut,
MIS Ar-Raudhotun Nur kembali menegaskan komitmennya dalam membangun budaya
madrasah yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, toleransi, dan saling
menghormati. Penanaman semangat kebhinekaan tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan
kewarganegaraan, tetapi juga diintegrasikan dengan pendidikan karakter dan
nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembiasaan yang
dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan madrasah, diharapkan
setiap peserta didik mampu memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan yang
mempersatukan, bukan alasan untuk saling membedakan. Semangat inilah yang
menjadi bekal penting bagi mereka untuk tumbuh sebagai generasi yang
berkarakter, berwawasan kebangsaan, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang
rahmatan lil 'alamin, serta mampu menciptakan lingkungan yang damai, harmonis,
dan bebas dari segala bentuk perundungan.
Kontributor: Insan
Faisal Ibrahim, S.Pd
Satuan Kerja: MIS AR-RAUDHOTUN NUR
.jpeg)
.jpeg)

0 Komentar